MWCNU CANDI
Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo
Menyambut Rebo Wekasan: Ittiba' kepada Ulama dan Memperbanyak Sedekah

Rebo Wekasan bukan sekadar sebuah penanda waktu dalam kalender Hijriah. Bagi sebagian masyarakat Muslim Nusantara, Rabu terakhir bulan Safar menjadi momentum untuk memperbanyak doa, dzikir, istighfar, sedekah dan berbagai amal kebaikan sebagai ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Besok, Rabu, 12 Agustus 2026, merupakan Rebo Wekasan. Malam ini menjadi momentum bagi kita untuk mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal kebaikan dan memohon keselamatan kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan ini, Ning Zakiyatul Fikriyah yang akrab disapa Ning Cici, dari Pondok Pesantren Roudlotul Ulum, Minggir, Candi, menyampaikan pesan kepada para sahabat Fatayat:
“Sahabat Fatayat, nanti malam adalah malam Rebo Wekasan. Monggo niki diamalkan, ijazah saking guru kawulo, Almaghfurlah Romo KH Jamaludin Ahmad.”
Dawuh tersebut menjadi pengingat bagi kita untuk tidak hanya mengetahui tradisi keagamaan, tetapi juga mengisinya dengan amal dan ibadah.
Sejalan dengan hal tersebut, Sahabat Muthmainnah, Ketua PAC Fatayat NU Candi, menghimbau kepada seluruh kader untuk melaksanakan dawuh ulama sebagai bentuk ittiba dan ngalap berkah, sekaligus memperbanyak sedekah.
Rebo Wekasan hendaknya tidak dimaknai sebagai keyakinan bahwa hari tertentu membawa kesialan. Hari tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan bala dengan sendirinya. Semua yang terjadi berada dalam kehendak Allah SWT. Doa, sedekah, dzikir dan ibadah adalah bentuk ikhtiar seorang hamba, sedangkan perlindungan dan pertolongan hanya kita gantungkan kepada Allah SWT.
Maka, mari sahabat Fatayat, kita sambut Rebo Wekasan dengan memperbanyak istighfar, doa, dzikir, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an dan sedekah. Kita amalkan ijazah dari guru kita, Almaghfurlah Romo KH Jamaludin Ahmad, dengan niat tabarrukan, ittiba kepada ulama, serta memohon keselamatan dan keberkahan kepada Allah SWT.
Semoga ikhtiar kecil kita menjadi jalan turunnya keberkahan, mempererat kecintaan kepada para ulama, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.
Milla Apologia


