MWCNU CANDI
Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo
TIGA HAL YANG MENJAUHKAN RAHMAT ALLAH

TIGA HAL YANG MENJAUHKAN RAHMAT ALLAH
Oleh: Dr. H. AW Evendi, M.Ag
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
QS. Ar-Ra'd: 25
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah pada kesempatan ini kita senantiasa berusaha mewasiyatkan diri kita masing-masing untuk berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dalam artian senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya apa pun bentuknya dan di mana pun kita berada, semoga dengan keimanan dan ketaqwaan itu Allah SWT senantiasa berkenan membentangkan jaminan keselamatan kepada kita semua, orang tua kita dan keluarga kita untuk selamat dan diselamatkan Allah baik lahir maupun batin, baik di dunia maupun di akhirat. Topik khutbah pada jumat hari ini Adalah Tiga Hal Yang Menjauhkan Rahmat Allah SWT.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Dalam tafsir Al-Qurthubi, setelah Allah menjelaskan sifat orang-orang yang beruntung, yaitu orang yang menepati janji dan menyambung perintah Allah dalam al Qur’an surah Ar-Ra’du ayat 20-21, maka dalam ayat selanjutnya dalam al Qur’an surah Ar- Ra’du ayat 25, Allah sebutkan lawannya. Yaitu Ada 3 sifat yang menyebabkan seseorang jauh dari rahmat Allah:
Pertama: يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ - Mengkhianati Janji kepada Allah. Imam Al-Qurthubi menjelaskan: "نَقْضُ الْمِيثَاقِ: تَرْكُ أَمْرِهِ" Mengkhianati janji artinya meninggalkan perintah Allah. Apa janji kita? Sejak di alam arwah kita sudah bersaksi: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ , ”bukankan aku ini Tuhanmu?” lalu kita jawab بَلَى شَهِدْنَا. ”Ya kami bersaksi”. Bentuk pengkhianatannya sekarang: sudah Islam tapi shalat bolong, sudah tahu haram tapi tetap dikerjakan, sudah ngaji tapi akhlak tidak berubah. Al-Qurthubi juga menukil: "إِهْمَالُ عُقُولِهِمْ" yaitu tidak mau menggunakan akal untuk bertadabbur mengenal Allah. Na'udzubillah. Sebagai warga negara yang baik, kita diajarkan hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air bagian dari iman. Maka mengkhianati aturan Allah juga bentuk pengkhianatan pada diri sendiri.
Kedua: وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ - Memutus Apa yang diperintah Allah untuk disambung yaitu Tali Silaturahmi. Al-Qurthubi menafsirkan: "أَيْ مِنَ الْأَرْحَامِ. وَالْإِيمَانِ بِجَمِيعِ الْأَنْبِيَاءِ" Yaitu memutus silaturahmi dan tidak beriman kepada semua Nabi.
Ini penting sekali dalam tradisi yang sudah mengakar di negeri kita tercinta ini. Kita punya tradisi ziarah, silaturahmi, halal bihalal. Semua itu Adalah perintah agama untuk menyambung silaturrahmi. Rasulullah ﷺ bersabda:
"من أحب أن يبسط له في رزقه وينسأ له في أثره فليصل رحمه"
"Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi" [HR. Bukhari]
Putus dengan orang tua, putus dengan saudara, putus dengan tetangga karena beda pilihan, itu termasuk yang Allah ancam dalam ayat QS. Ar-Ra’du ayat 25 itu.
Ketiga: وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ - Membuat Kerusakan di Bumi. Al-Qurthubi: "أَيْ بِالْكُفْرِ وَارْتِكَابِ الْمَعَاصِي" Yaitu dengan kekufuran dan kemaksiatan. Kerusakan sekarang bentuknya banyak: korupsi, hoax, ghibah, merusak lingkungan, tawuran. Padahal Islam Ahlussunnah wal Jamaah mengajarkan kita islah, bukan ifsad. Mendamaikan, bukan memecah.
Sayyidina Sa'ad bin Abi Waqqash sampai bersumpah: "Demi Allah, mereka itu Al-Haruriyyah" yaitu kaum yang gemar mengkafirkan dan merusak.Lalu apa hukumannya? أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ Al-Qurthubi: "أَيِ الطَّرْدُ وَالْإِبْعَادُ مِنَ الرَّحْمَةِ" Dijauhkan dari rahmat Allah. وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ "Tempat kembali yang buruk" yaitu Neraka Jahannam.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Setelah Allah mengingatkan bahaya 3 sifat di ayat 25, Allah tenangkan hati orang beriman di ayat 26:
اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Artinya: Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat.”
Ada tiga hikmah yang dapat diambil dari ayat ini:
- Rezeki adalah Ujian, bukan Tanda Kemuliaan
Al-Qurthubi menjelaskan:
"لِأَنَّهَا دَارُ امْتِحَانٍ، فَبَسْطُ الرِّزْقِ عَلَى الْكَافِرِ لَا يَدُلُّ عَلَى كَرَامَتِهِ"
Maksudnya: ”Dunia tempat ujian. Orang kafir diberi rezeki banyak bukan karena mulia. Orang mukmin disempitkan bukan karena hina.” "يَقْدِرُ" artinya menyempitkan atau memberi secukupnya. Maka jangan iri dengan rezeki orang. Syukuri porsi kita.
2. Jangan Tertipu Kebahagiaan Dunia .وَفَرِحُوا بِالْحَياةِ الدُّنْيا . Ini sifat orang yang lupa akhirat. Gembira hanya dengan harta, jabatan, viral. Padahal Nabi ﷺ ajarkan kita tawazun. Seimbang dunia akhirat. Bekerja iya, ibadah jangan tinggal.
- Hakikat Dunia: إِلَّا مَتَاعٌ - Barang Sementara
Al-Qurthubi menukil beberapa tafsir:
- Imam Mujahid menafsirkan: "Sedikit dan akan hilang, seperti panasnya siang"
- Ibnu Abbas, menafsirkan "Seperti bekal penggembala, cukup untuk sampai tujuan"
- Pendapat lain adalah "Bekal untuk akhirat berupa takwa dan amal shalih"
Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah SWT dengan do’a: “Ya Allah, indahkan lah hidup kami dengan kesehatan dan keselamatan, nyatakan lah kami dengan taqwa dan istiqomah, lindungi lah kami dari hal-hal yang memaksa kami menyesal, serta tolong lah, bimbing lah kami untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, sedang engkau meridloi kami”
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الْشَيْطَانِ الرَّجِيْمْ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أََيْنَمَا ثُقِفُوْا اِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَ حَبْلٍ منَ النَّاسِ. بَارَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ فَى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِياَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الايَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ الّسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَ قُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا واسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


